ini merupakan cerita yang asli tanpa dibumbui fiksi , tapi nama orang orangnya akan dirubah seperlunya
malam itu berita mengejutkan terdengar olehku , "bapak meninggal mas" , bapakku meninggal ? hanya itu yang dipikiranku ? antara sedih dan marah bercampur menjadi satu , sedih karena aku kehilangan bapak , marah karena dia masih banyak "hutang" ke aku , masih ada yang harus diselesaikan oleh bapak anak ini , masih banyak sakit hati yang dirasakan olehku akibat perbuatan bapakku , masih banyak kesalahanku ke bapakku , kenapa dia harus pergi secepat itu ?.
sesampainya dirumah sakit , melihat bapakku sudah meninggal aku tidak langsung menangis ingin aku berteriak , " kamu masih banyak salah ke aku , masih banyak sakit hati yang kamu buat " dan lainnya tetapi kata kata itu tidak bisa keluar , yang terjadi hanyalah aku yang menangis diakhirnya , dan hanya permintaan maaf yang keluar dari mulutku
aku melihat sekeliling , sodara sodara berkumpul disana , semuanya menangis , lalu aku mencari seseorang , seseorang yang selama ini membuat bapakku berada dalam cengkeramannya , aku lihat kiri , kanan , tidak ada , cukup emosi juga aku , dalam pikiranku aku hanya berpikir " selama ini kamu dipenuhi segalanya , kamu diperlakukan bagaikan seorang ratu walaupun kamu seorang pelacur murahan , tapi kemana aku disaat ini ?" hampir saja aku meledak emosinya , ketika pintu dibuka terlihat wanita jalang itu tengah duduk diluar , tanpa wajah sedih , tanpa wajah yang ditinggalkan seseorang yang selama ini ngopeni dia , tapi aku hanya bersabar , sebenarnya ingin aku melabraknya
ketika jenazah bapakku sudah berada diruang jenazah istriku datang , dia menangis , karena dia sedang hamil aku mengajaknya keluar lalu aku mengajaknya untuk sholat bersama , untuk menenangkan hati kami lalu aku suruh dia pulang dulu saja agar dia beristirahat tidak baik bagi janinnya malam malam diluar rumah, setelah memandikan bapakku , jenazah mulai dibawa kerumah duka , disana aku disuruh oleh budeku untuk menemani jenazah bapakku sampai pagi , aku menunggunya dan beberapakali aku sholat untuk bapakku , jam 11 malam ternyata wanita jalang itu datang lagi , dan karena banyak pelayat disana , dengan aktingnya dia pura pura menangis ( yang hanya berlangsung 1 menit dan gagal malahan seperti orang tertawa dan senang ) , dia duduk di sebelahku , aku hanya memberinya surat yasin untuk dibacanya , entah dibaca atau tidak yang penting dilihat lihat , hampir 1 jam kemudian wanita jalang itu berpamitan untuk pulang , aku sendiri tetap disana menemani bapakku sambil mengingat pesan terakhirnya , "baguskan usahamu , kalahkan usahaku" , besok pagi bapakku dimakamkan
bersambung